
Ah, rasanya sudah lama sekali sahabat-sahabat saya, especially; Kaka dan Mita, support saya untuk bikin blog. Soalnya, beliau-beliau itu tahu banget, saya suka nulis-nulis. Memang siy kedengarannya telat banget yak, kalo baru sekarang saya mulai "serius" nge-blog. Secara namanya blog, blooger dan apalah tentang blog itu sudah dari kapan tahu (istilah Mita, wkwkwkw).
Waktu itu, masih jaman booming friendster-an, (untuk yang satu ini say thank's saya buat Adi, Jogja, yang udah ngajarin "main" FS).Saya manfaatin "notes" fs buat merangkai imajinasi. Lumayan banyak juga, karena setiap hari selalu ada satu (1) hingga dua (2) postingan.
Hingga era Fs digusur oleh Fb. Saya inget banget, dari Mita-lah, saya banyak tahu soal per-fb-an ini. Sebelumnya, cuman "ngintip-ngintip" sahabat kami, Tommy yang juga udah fb-an, kala itu.
Begitu tahu, kalo di fb juga ada medianya buat nulis-nulis, mulai deh saya "beraksi". Postingan yang biasa di fs "pindah rumah" ke fb. Lumayan banyak juga, karena pernah sehari ada tiga (3) hingga lima (5) postingan tulisan.
Pas lagi asyik fb-an gitu, mulai deh si Kaka, memerkenalkan blog. Kebetulan si jeng satu itu sukanya main-main blog. Beliau pula yang akhirnya dapat "tugas kehormatan" dari CEO untuk create company blog. Sedangkan saya "di-dhapuk" untuk men-support tulisan dan memilih foto.
Memang saya kurang suka ribet, so, tugas saya mencari ide bahan tulisan, pilih foto oke baik akivitas maupun narsis, terus diserahin ke mbak Kaka untuk di posting di blog kami. Tanpa berfikir lebih jauh pernak-pernik blog.
Saya juga inget banget, ketika Kaka dan Mita, men-support saya untuk ikutan lomba blog. Dari yang hadiahnya murah meriah pe juta-jutaan. Mereka bilang, saya support tulisan aja, untuk urusan bikin "rumah" plus tata letaknya, meraka yang ngurusin. Tapi dasar, belum dapat "hidayah" hehehe, saya cuek-cuek aja. Masih asyik nulis-nulis dan nge-tag di FB. Hehehehe.
Barulah sepekan ini, my beloved,yang hobi internetan juga, "mem-provakasi" saya untuk mulai menekuni blog. Okelah, saya setuju. Hehehehe..Bukan okelah kalo beg..beggitu..wkwkwkwkwkw..
Kami berbagi tugas, si mas yang "bikin rumah" dan saya yang akan "mengisi" wisma kami.
Hingga akhirnya, saya mulai berfikir untuk utak-utik sendiri blog kami. Beberapa blog sahabat sempat saya intip, dan inspiratif. Seperti memberikan pencerahan dan tentu saja ide segar. Untuk ini, thank' Hasty, yang kali pertama sudah berbaik hati membolehkan kami main-main ke "kediamannya" yang inspiring dan hoomy.
Tadinya, saya geregetan juga, melihat rumah kami yang masih "seadanya" dan hingga hari in juga masih terus "direnovasi", hehehehe. Sedangkan kediaman teman-teman kami sudah demikian nyaman dan mengesankan.
Tapi, si mas dengan sabarnya bilang, kalau untuk membuat rumah yang bagus dan menyenangkan untuk penghuni dan para tamu, mesti pelahan dan penuh sabar.
Baiklah. Ada benarnya juga!
Saya jadi mulai rajin untuk "bertamu" ke istana teman-teman dan belajar banyak dari kediaman mereka. Disamping tentu saja, terus aktif menulis dan menulis,...hmmm...
"membangun rumah" itu ternyata memerlukan proses panjang dan penuh pembelajaran. Semoga ini dari yang sederhana ini, kelak, suatu hari nanti kami dapat mewujudkan "rumah sebenarnya" yang cozy dan hoomy bagi kami dan tentu saja mereka yang bertandang ke rumah kami, kelak.
Semoga. Bukankah tidak ada impian yang tidak jadi kenyataan. Selama kita mau mengusahakannya. Tentu saja.
Tulisan ini Mita, Kaka, Tommmy dan my beloved, Tri, yang membuatku selalu belajar dan terisnpirasi..
Salam cinta,
Rabu, 24 Februari 2010
Belajar Lagi, Coba Lagi...Belajar Lagi..Yuukk...(Curhat Yeti.com)
Posted by Tri Lestiyono dan Yeti Kartikasari at 06.12 1 comments
Parasmu Menggetarkan Hatiku

...
Mana mungkin kulupa,
Senja itu sepasang matamu berkilat syahdu
Menatapku, tajam
Berkelebatan warna cinta memendar dari parasmu
Seperti bianglala
Seperti air terjun
Seperti gemericik anak sungai
Ah! Seperti segala yang memesona
Senja yang menjemput jelaga malam itu
masih mengiang di nadirku
dan engkau tahu
sejak saat itu,
aku yakin engkau milikku..
di-dedikasikan untuk kalian yang selalu jatuh cinta...
Posted by Tri Lestiyono dan Yeti Kartikasari at 05.55 0 comments
Thank's 2 Facebook!
"Hidup dan kehidupan ini dipenuhi dengan "Kebetulan" yang bukan "Kebetulan" dan selalu ada "Keajaiban" di setiap detiknya"
Berkat facebook pula, kami yang dibentang jarak begitu jauhnya, akhirnya bisa ngobrol dan sharing. Sampai detik ini sih masih merasa "wondering", tapi begitulah kenyataannya. Salut buat facebook.
Makanya, ketika sempat rame-rame ada fatwa facebook haram, kami tidak sepakat. Facebook hanya media, yang menjadi sentral dari segala tindakan baik dan buruk itu tergantung user-nya. Maka kami, lagi-lagi, meng-amini, bahwa tekonologi itu untuk memermudah dan mestinya digunakan secara bijak dan cerdas.
Facebook bisa menjadi"pintu", segala kemungkinan. Hmm, salah satunya kemungkinan bertemu soulmate. Hehehehe..Amiin.
Dua hari lalu, si Ye, baru ketemu dengan sahabat lamanya waktu SMU kelas 1 di Porong Sidoarjo. Ya gara-gara facebook juga.
Ceritanya, Ye dan Novi, dulu sempet satu (1) kelas ketika kelas 1.
Sampai Ye pindah ke Bali persahabatan terus berlangsung. Bahkan hingga Ye kuliah di Jogja dan Novi di Surabaya.
Hingga semester pertengahan sekitar tahun 2002 masih terjalin komunikasi.
Hingga, Ye kehilangan file alamat teman-teman dan itu yang membuat kontak terputus.
Kalau dihitung siy sudah hampir delapan (8) tahun tidak ketemu. Finally, sepekan ini kami dipertemukan lewat facebook. Thank's God! Kami bisa melepas rindu dan dijumpakan lagi.
Thanks' facebook make it happen.
TOP dah buat facebook...Teman-teman punya cerita soal facebook dan pertemuan indah? Di share yach...
(Jadi seperti mendengar lagunya Gigi yang berunsur facebook, hehehehehe)
Tulisan ini kami dedikasikan untuk "kami", sahabat terkasih,Novi Yanti Brail dan teman-teman yang punya kisah dengan facebook.
Salam dari hati,
Posted by Tri Lestiyono dan Yeti Kartikasari at 05.11 0 comments
Cilok dan Kopi Jahe
Hmmm,...sedang ingin ngobrolin remeh-temeh, setelah beberapa hari berkutat dengan kesibukan menyiapkan masa depan. Hehhhee.
Selain rumpian tentang cinta, diskusi soal makanan udah pasti masuk list "tema yang seru" untuk diperbincangin versi famili 100. Hehehehe.
Maka pilihan kuliner, jatuh pada cilok dan kopi jahe.
Cilok, kalo kata orang Bandung, aci dicolok itu jadi "snack" favorit kalo ketemu. Ups! Bola-bola daging, aslinya siy banyakan kanji itu, kekekekek, setelah eksperimen sana-sini, kami baru meng-amini, kalo pentol itu lebih sip dan oke bila dicocol dengan saus, kecap dan sambal botolan yang ber-brand. Hmmm...Selain lebih "nendang", juga higienis dari sisi kesehatan. Yaillah...
Memang, ada juga penjual cilok yang menyajikan jualannya itu bukan dengan saus dan kecap, melainkan bumbu kacang. Ini lebih asoy geboy lagi. Hmm, perpaduan yang unik dan maknyuss!
wutss!
So, makanan yang kalo kebanyakan disantap, bakal bikin perut kenyang ini jadi jajanan semi wajib buat kami kalo lagi ketemu.
Hmmm, sebagai teman untuk berbagi cerita, ada lagi "menu wajib" kami, kopi. Kebetulan sama-sama suka minuman ber-kafein ini. Beberapa merek pernah kami nikmati bersama, dan lagi-lagi setelah trial and error, kami menemukan paduan kopi yang "sip". Apalagi kalo bukan kopi jahe. Eits! Bukan sembarang jahe, tapi pake serbuk jahe.
Untuk urusan kopi ini, kami pernah hunting hingga ke Bangkalan, demi menikmati secangkir kopi. Pinginnya siy suatu hari punya kesempatan untuk menjelajah lebih banyak tempat lagi untuk merasakan kenikmatan kopi. Semoga.
Percaya tidak percaya, rasa kopi itu ternyata ada hubungannya dengan suasana hati. Kalo pas sedang rileks, bahagia, rasa kopi yang diracik lebih banyak pas dan enak. Tapi, jangan coba-coba bikin kopi dalam kondisi hati sedang dramatis atau bad mood, sudah dapat ditebak, rasa kopi sangat amburadul. Hehehehhe.
Selamat ngopi, selamat bersantai dan mari kita berbagi hati!
Salam dua hati,
Posted by Tri Lestiyono dan Yeti Kartikasari at 04.37 1 comments
Selasa, 23 Februari 2010
Yuuk Tidak Henti Bermimpi!

Oleh-oleh dari seminar Human Resources Development, organized by Jhon Robert Powers, Shangrilla Hotel, Surabaya, 20 Februari 2010.
Ungkapan itu seolah menggugah semangat kami, untuk meyakini kebenaran, bahwa segala hal yang pernah dan akan kami impikan, kelak suatu hari akan menjadi kenyataan.
Mr Toni yang alumnus Advance Leadership Training of Hawai ini juga memotivasi untuk tidak malas menuliskan apa yang menjadi impian kami. Sebanyak apapun itu. Serta menuliskannya tanpa ragu.
Memang sih, sering kami mendengar cerita rekan dan sejawat yang acapkali "mengecilkan" makna impian. Bahkan, tak jarang mereka enggan untuk berkeinginan. Karena menganggap, harapannya terlalu tinggi dan takut kecewa bila keinginan mereka tidak tercapai.
Padahal, menurut Mr. Tony, dengan berani bermimpi, kita senantiasa memiliki motivasi dan semangat untuk menggayuh impian.
"Bagaimana mungkin anda dapat mencapai sesuatu sementara anda tidak pernah sekalipun memimpikannya?!, begitu kata Mr Tony yang pernah berkarir di PT Buanatirta Adijaya RELAXA, Pasuruan ini.
Hmm,...mendengar "gugahan" itu jadi semakin mantap saja hati ini untuk terus bermimpi. Menuliskan semua keinginan dan memerjuangkannya menjadi kenyataan. Dreams Come True!
Memang, untuk mencapai semua obsesi, butuh kerja "Cerdas" dan tentu saja kesabaran. Benar, seorang bijak pernah bertutur, kebesaran Roma tidak dibangun dengan semalam. Artinya apa? Di sana ada perjuangan, pengorbanan, keyakinan dan tentu saja ketulusan dan kesabaran.
Seringnya sih kita tidak sabar. "Kesabaran ada batasnya". Padahal, kalau saja mau jujur, yang dinamakan sabar itu tidak ada batasnya. Hehehehe...
Tidak sabar untuk sukses, tidak sabar untuk bahagia, dll.
Kerap kita mengeluh mendapati kenyataan tidak sesuai harapan. Menemui hambatan sedikit, sudah berfikir untuk "berhenti". Memang itu manusiawi.
Tapi, dengan mengingat dan membaca kembali impian-impian kita yang belum tercapai, rasanya kok sayang yach untuk bilang "sudah" dan "berhenti".
So, jangan lelah untuk bermimpi dan mencatatkan setiap impian. Luangkan waktu untuk membaca ulang obsesi kita lalu me-review-nya, sudah sejauh mana usaha kita untuk menjadikannya nyata.
Hmm,...jadi ingin mengamini sebuah ujaran, "Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Jika kita mau bermimpi dan mengusahakannya menjadi kenyataan indah. Ketidakmungkinan akan menjadi ketidakmungkinan selama kita meyakini bahwa itu memang tidak mungkin."
Yuuk terus bermimpi dan meyakini Dreams Come True....(jadi pingin denger lagunya Westlife, I have a dream....). Hehehehehe..
Salam impian dari kami,
Posted by Tri Lestiyono dan Yeti Kartikasari at 01.52 2 comments
Senin, 22 Februari 2010
Mari Membumikan Tradisi Menulis!
MEMBACA berita koran ini Rabu, 10 Februari halaman 44 bertajuk Siswa TK Belajar Ilmu Koran, seolah menerbitkan keyakinan saya tentang impian sebuah dunia yang dipenuhi generasi cinta baca dan menulis bukan lagi sekedar mimpi. Kegembiraan 350 anak-anak SDIT Bina Insan Cendekia (BIC) Pasuruan, belajar seluk beluk dunia koran seperti menjadi “ruh” bagi tumbuhnya generasi penerus yang mencintai tradisi intelektual. Setidaknya saat ini menjadi pelipur di tengah keprihatinan bahwa di tengah pesatnya kemajuan teknologi yang berimbas pada ditinggalkannya dunia membaca dan menulis, masih ada bibit-bibit penerus bangsa ini yang memiliki rasa keingintahuan dan keinginan untuk belajar bagaimana menjadi pencatat sejarah di masa depan.
Kenapa begitu? Ya! Derasnya perkembangan teknologi informasi dengan segala hiruk pikuknya saat ini seolah menjadi milik siapa saja. Tumbuhnya media televisi yang menyuguhkan tontonan 24 jam menyita waktu anak-anak, remaja hingga orang tua untuk tidak beranjak dari depan kotak ajaib yang disebut pakar komunikasi Universitas Padjajaran Bandung, Djalaluddin Rahmat sebagai Tuhan kedua. Tak cukup itu, lahirnya televisi kabel pun seolah menambah marak jagat hiburan. Kini, “kemeriahan” itu ditambah lagi dengan “dunia maya” yang kian meninabobokkan siapa saja yang bisa mengaksesnya. Akibatnya apa? Sudah bisa ditebak, anak-anak lebih tertarik nonton televisi atau main games dan internet daripada membaca atau menulis.
Menjadi pemandangan biasa, bila kini generasi muda yang notabene pelajar lebih menggemari berkunjung ke warnet atau game zone bukan ke perpustakaan atau toko buku. Bagi mereka yang mampu membeli gadget, semakin lebih mudah dalam mengakses dunia cyber itu. Bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Cukup sekali sentuh, ribuan bahkan jutaan situs dapat ditelusuri dengan instan. Tanpa perlu berburu data ke lapangan atau perpustakaan.
Di kalangan pendidik pun, kerap kita jumpai betapa sulitnya menggugah semangat mereka untuk menulis. Bahkan menjadi beban tersendiri ketika mendapatkan tugas untuk menghasilkan karya tulis sebagai syarat untuk mengajukan usulan sertifikasi. Ini dimaklumi, guru berkutat dengan aktivitas mengajar sehingga “lupa” bahwa sebenarnya memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan karya tulis untuk dibagi kepada khalayak.
Menulis, bila dipahami, merupakan sebuah proses kreatif untuk melahirkan ide maupun gagasan brilian sekaligus transfer of knowledge bagi pembaca. Ini sebuah proses tidak mudah. Itu sebabnya, sebelum menulis, seorang penulis perlu melakukan observasi maupun riset kecil-kecilan. Kenapa begitu? Agar tulisan kita kaya dengan referensi, “tepat” sasaran dan mampu memberikan pengaruh positif bagi pembaca.
Memang, aktivitas menulis ini membutuhkan waktu cukup serta kesabaran dalam berproses menghasilkan tulisan berbobot dan mampu menginspirasi. Namun jika terus menerus dilatih dan menjadi kebiasaan, maka kegiatan ini menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bukan tidak mungkin, aktivitas ini bila terus dipupuk akan menghasilkan nilai ekonomi dan tentu saja kebanggaan tersendiri karena mampu memberikan pencerahan bagi banyak orang.
Kebiasaan menulis bisa dimulai sejak dini. Sejak anak-anak mulai kenal dan diperkenalkan dengan alfabet. Bisa dimulai dengan mengajak anak untuk mencintai baca. Memang, dalam proses ini, orang tua sangat berperan dalam membidani kelahiran generasi yang cinta baca dan menulis. Orang tualah yang menjadi pusat bagi anak untuk kenal dengan tradisi baca tulis. Bagaimana mungkin seorang anak akan suka dan cinta baca dan menulis jika kedua orang tuanya lebih asyik nonton televisi atau main internet? Disadari atau tidak, perilaku dan kebiasaan anak adalah cerminan seperti apa kedua orang tuanya dalam bersikap dan berperilaku.
Mengakrabkan dunia baca dan menulis sebenarnya sama mudahnya dengan mengenalkan mainan pada anak-anak. Saat ini sudah banyak buku yang dikemas dengan tampilan menarik dan menggugah keingintahuan anak untuk “menyentuh”, dan “bermain-main” dengannya.
Mengenalkan betapa asyiknya membaca dan menulis pada anak-anak, semudah memilihkan makanan sehat dan bergizi pada mereka. Pada fase inilah peran serta orang tua dan guru di sekolah menjadi poin penting.
Guru di sekolah sekali waktu dapat mengajak anak didik untuk berekreasi cerdas dengan mengunjungi toko buku. Piknik edukasi juga bisa dilakukan dengan mengajak siswa bertandang ke media cetak. Seperti yang dilakukan para siswa SDIT Bina Insan Cendekia Pasuruan, belum lama ini dengan berwisata ke koran ini. Di penerbitan, siswa diajak untuk mengenal lebih dekat dunia persuratkabaran. Kegiatan semacam ini selain menambah wawasan juga melatih rasa percaya diri anak. Kenapa? Karena pada kesempatan itu, siswa dapat mengajukan pertanyaan pada awak redaksi. Sebuah aktivitas yang tidak semua orang mampu melakukannya, karena dibutuhkan mental meskipun hanya sekedar untuk bertanya.
Usai berkunjung ke toko buku, perpustakaan atau media, anak-anak diberikan tugas untuk menuliskan hasil kunjungan dengan gaya dan bahasa mereka sendiri. Anak-anak diberikan kebebasan untuk menuangkan idenya tanpa batas. Bisa menulis puisi, pengalamannya bertemu wartawan dan sebagainya. Hasil karya siswa dapat di pajang untuk diberikan komentar dan apresiasi. Dengan begitu, muncul rasa kebanggaan anak, bahwa mereka dapat menghasilkan karya yang bisa dinikmati oleh orang lain.
Dukungan media dalam hal ini juga dibutuhkan. Sebagai salah satu bentuk tanggung jawab media untuk mencerdaskan bangsa, dapat diwujudkan melalui penyediaan kolom khusus untuk menampung kreativitas pembaca. Seperti kehadiran rubrik Colosseum koran ini setiap Minggu. Semoga ini akan menjadi embrio dalam “membumikan” tradisi menulis di masyarakat.
Alangkah indahnya dunia ini, jika di setiap sudut yang kita jumpai, dapat kita saksikan betapa antusiasnya anak-anak, remaja dan dewasa berjibaku dengan buku dan menulis. Mereka memadati perpustakaan dan toko buku untuk berburu informasi. Tentunya itu bukan impian semata, melainkan akan menjadi kenyataan suatu hari nanti. Mari kita tumbuhkan virus menulis dan mencintai membaca!
“Jika kita tidak mampu meninggalkan emperium sebagai warisan bagi generasi, maka tulisan-lah yang mampu kita tinggalkan sebagai bukti bahwa kita pernah ada.”
*Yeti Kartikasari,
Penulis lepas dan pemerhati pendidikan anak
Email/fb; ykartikasari@yahoo.com.
Tulisan ini dimuat di Jawa Pos Radar Bromo, Minggu, 21 Februari 2010
Posted by Tri Lestiyono dan Yeti Kartikasari at 18.44 0 comments
Minggu, 21 Februari 2010
Cerita Tentang Rindu
21 februari 2010
Ingin sejenak meliputi hati pada rindu dan kerinduan. Sebab, dua hal itu sama menariknya dengan ketika bicara cinta dan jatuh cinta.
Rindu pada apapun yang pernah dan ingin kita miliki "sebagai dan untuk" kebahagiaan.
Seperti halnya kami yang rindu pada keinginan untuk "kejayaan" dan kegemilangan. Rindu menikmati waktu untuk orang-orang tercinta, rindu menghabiskan pagi dengan anak-anak yang menanti kami di meja makan untuk sarapan bersama. Rindu menikmati senja bersama orang tua dan sahabat di beranda rumah sambil menghirup kopi atau teh bersama.
Sebuah impian sederhana saja.
Seperti hari ini, ada kerinduan terbata-bata pada kebahagiaan yang tengah kami rintis dan titi. Ibarat sebuah tangga yang entah akan menuju lantai berapa. Tidak ada yang bisa memberikan kami janji, bahwa di lantai sekian, kami akan menemukan apa yang kami inginkan. Tapi kaki ini harus terus menuju. Meski nafas tersengal dan keringat sudah mulai berjatuhan. Hanyalah keyakinan, nanti pada saatnya, ketika lelah di puncak, dan amarah hampir menjadi dewa, kami akan berhenti pada impian. Tapi tunggu dulu! Suara hati berbisik, ternyata pada saat menemukan harapan pun, kami tidak boleh berleha-leha berhenti. Karena masih ada lagi yang kami kejar. Hmmm...
Rindu dan kerinduan, sama halnya dengan cinta. Keduanya berpuncak pada hal yang sama, kebahagiaan. Ah, hanyalah sebait asa saat letih ini mulai berkata, semoga kami tidak pernah putus asa pada segala garapan. Sebab, inilah ujian untuk mencapai kerinduan, nanti, pada saatnya.
Posted by Tri Lestiyono dan Yeti Kartikasari at 04.04 0 comments

